Hapuslah air matamu Ibu Pertiwi
Biarkan kami yang bermandi peluh,
bermandi debu dan bermandi lumpur
Biarkan kami yang akan menggendong duka dan laramu
Biarkan kami yang akan memikul semua ini

Tetap Semangat Wahai Anak Bangsa !!!
SEPERTI BURUNG ELANG,
JIKA INGIN TERBANG AKAN BELAJAR TERUS MENERUS SEBELUM BISA MENEMBUS ANGKASA RAYA...
ITULAH PG dan juga para PETUALANG SEJATI

16 Oktober 2009

INVENTARISASI BURUNG AIR DIPANTAI UTARA " MENYAMBUT KEDATANGAN BURUNG MIGRAN"





Ini cerita 9 tahun yang lalu, dari tumpukan kertas-kertas dokumen yang hampir terbuang, semoga dapat bermanfaat bagi semua rekan-rekan dan para pengambil keputusan.
Inilah ceritanya .......

1. Sebanyak 22 jenis burung air di pantura Cirebon-Indramayu dari 184 jenis burung air yang ada di Indonesiayang bersala dari 22 Famili. Pada tanggal 14-24 September, 7-22 Oktober 2000 telah diinventarisir oleh Petakala Grage bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam(BKSDA) Jabar II tidak kurang 10 anggota dilibatkan, khusus di daerah Losari dibantu KPA TAPAK Losari.

2. Target sebenarnya adalah jenis burung air migran dari Utara seperti Siberia dan Mongolia. Dari selatan juga ada yang singgah seperti dari Australia. Pada bulan September s/d Maret, daerah-daerah di Indonesia terutama pantai utara Indramayu s/d Cirebon akan disinggahi ratusan ribu burung air migran yang sebagian besar berasal dari famili charadriidae dan scolopacidae. Kelompok burung ini tidak untuk berkembang biak , tetapi hanya memanfaatkan lahan basah kita sebagai tempat "isi bensin" selama musim migrasi mereka.

3. Burung air (waterbird/waterfow l) adalah burung yang hidup dan tinggal didaerah perairan basah/lahan basah, seperti daerah rawa, payau,hutan bakau, muara sungai danau, sawah, sungai, bendungan dan pantai. Kehadiran burung ini dapat dijadikan indikator penting dalam mengkaji mutu dan produktivitas suatui lingkungan lahan basah.

4. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh :
a./ Kurangnya minat instasi terkait, LSM, Kelompok Pecinta Alam Pelajar dan Mahasiswa disepanjang daerah pantura Indramayu-Cirebon terhadap burung air, habitat dan upaya perlindungannya.

b. /Terbatasnya informasi dan data dasar tentang burung air dan ekosistemnya sehingga menyulitkan para pemegang keputusan untuk melakukan langkah yang tepat dalam pengelolaan jenis burung ini dan habitatnya.

c./ Rusaknya habitat burung air di pantura Indramayu-Cirebon yang disebabkan oleh pengalihan fungsi hutan mangrove,berupa penebangan kaytu bakar, koversi lahan basah menjadi tambak dan pertanian. Luar biasa lahan basah di pantura Indramayu Cirebon telah hilang sekitar 85%, sementara yang tersisa terus mengalami kehancuran.

d./ Perburuan burung air terutama burung migran untuk konsumsi atau hewan peliharaan. Tidak kurang 200.000 burung air ditangkap mereka. Menurut hasil penelitian didaerah Indramayu pada tahun 1990 tercatat 90 ekor burung Wilwa (Myceteria cinerea) telah diburu dan dagingnya digoreng. Contoh lain adalah brung Terik (Glareola malavarum) yang diperkirakan ditangkap 45.000 ekor per tahun. Disepanjang pantura sangat mudah dijumpai daging goreng burung air migran seperti didaerah Bangkir, Juntinyuat, Karangampel, Mundu Cirebon, Pasar Gebang sampai Losari.

e. /Perlunya penunjukkan Kawasam Konservasi bagi burung air dan habitatnya didaerah :
1. Pantai Cantigi dan Pulau Biawak Indramayu
2.Muara Sungai Cimanis Astanajapura Cirebon
3.Muara Sungai Cisanggarung dan Nusa Kesem Taeawngsari Losari Cirebon

Hasil Inventarisasi :
1. Lokasi Mundu Astanajapura Cirebon 19-09-2000
- Mycteria cinerea, Bangau Bluwok
- Gallirallus striatus, Mandar-padi Sintar
- Charadrius peronii, Cerek Malayu
- Ardea novaeholladiae, Cangak Australia

2. Lokasi Muara Sungai Cimanuklama Tiris Sindang Indramayu 20-09-2000
- Egretta sacra, Kuntul Karang
- Ardea novaehollandiae, Cangak Australia
- Numenius madagascariensis, Gajahan Timur
- Ardeola speciosa Blekok Sawah
- Puffinus pacificus, Penggunting- laut Pasifik
- Tringa ferruginea, Trinil betis hijau
- Ixobrychus eurhytmus, Bambangan coklat

3. Lokasi Muara Kali Kesem Ambulu Losari Cirebon 21-09-2000
- Egretta sacra, Kuntul Karang
- Ardea novaehollandiae, Cangak Australia
- Ardeloa speciosa, Blekok sawah
- Phaethon rubricauda Buntut-sate Merah
- Phaethon lepturus Buntut-sate Putih
- Cakidris ferruginea, Kedidi golgol
- Arenaria interpres, Pembalik batu
- Phalacrocorax niger, Pecuk padi kecil

4. Lokasi Nusa Kesem Ambulu Losari Cirebon 22-09-2000
- Ixobrycus sinensis, Bambangan kuning
- Ardea sumantrana, Cangak laut
- Ardea cinerea, Cangak Abu
- Egretta alba, Kuntul putih besar
- Ardeola speciosa, Blekok Sawah
- Phalacrocorax sulcirostris, Pecuk-padi Hitam
- Himantopus himantopus, Gagang bayam
- Egretta intermedia, Kuntul perak

5.Lokasi Nusa Kesem Ambulu Losari Cirebon 23-09-2000
- Egretta intermedia, Kuntul perak
- Egretta alba, Kuntul putih besar
- Ardea novaehollandiae, Cangak Australia
- Ardea cinerea, Cangak abu
- Ardea sumantrana, Cangak laut
- Egretta intermedia, Kuntul perak
- Cakidris ferruginea, Kedidi golgol
- Arenaria interpres, Pembalik batu
- Phalacrocorax niger, Pecuk padi kecil
- Phalacrocorax sulcirostris, Pecuk-padi Hitam
- Numenius phalopus, Gajahan
- Ixobricus sinensis, Bambangan

Populasi Yang terhitung di Nusa Kesem Ambulu Losari 22-09-200 :
1. Ardeloa speciosa, Blekok sawah 982 sd 1600 ekor
2. Egretta intermedia, Kuntul perak 192 sd 300
3. Egretta alba, Kuntul putih besar 246 sd 468

Buku Panduan Yang Dipakai :
A field Guide To The Birds of Java and Bali, John MacKinnon, Gadjah Mada University Press, 1990

Pengamat :
1. Ir. Halasan Tulus,SEKSI KONSERVASI BKSDA JABAR II
2. Deddy Madjmoe,PETAKALA GRAGE CIREBON
3. Kuswadi, BKSDA
4. Agus Setya, BKSDA

Logistik:
1. Subsie BKSDA Cirebon
2. PETAKALA GRAGE CIREBON
2. KPA TAPAK Losari Cirebon

Semoga bermanfaat,

Salam,
Deddy kermit Madjmoe

09 Oktober 2009

Perubahan Iklim Sebabkan Gempa Tambah Dahsyat





By Republika Newsroom Kamis, 08 Oktober 2009 pukul 07:45:00

JAKARTA--Jauh dari gambaran lembut seperti dilukiskan mitologi-mitologi kuno, "Dewi Pertiwi" sesungguhnya gampang senewen dan meledak-ledak. Dia begitu peka sehingga sedikit saja cuaca dan iklim berubah, maka tercabiklah kerak bumi, dan keluarlah letusan vulkanik, gempa bumi dan longsor yang semuanya dahsyat.

Pernyataan itu bukan dari pendongeng, melainkan kesimpulan sejumlah ilmuwan yang pertengahan September 2009 berkumpul di London, Inggris, pada satu konferensi bertajuk "Climate Forcing of Geological and Geomorphological Hazards." Para ilmuwan itu menilai perubahan iklim bisa merusak keseimbangan planet Bumi, kemudian menghadiahi manusia dengan rangkaian bencana geologis.
Sudah lama diketahui bahwa antara iklim dan pergerakan kerak bumi saling berkaitan, namun baru kini ditegaskan bahwa betapa pekanya lapisan bumi terhadap udara, es dan air di atasnya."Anda tak perlu perubahan besar-besaran untuk memancing respons kerak bumi," kata Bill McGuire dari University College London (UCL), yang mengetuai konferensi ilmuwan itu, seperti ditulis New Scientist, edisi 23 September 2009.

Simon Dya dari Universitas Oxford, serta McGuire dan Serge Guillas dari UCL, memaparkan bukti bahwa bagaimana perubahan halus pada tingkat permukaan laut mempengaruhi kegempaan di Patahan Pasifik Timur, salah satu batas lempeng benua yang memekar paling cepat. Para ilmuwan memfokuskan perhatian pada lempeng mini Easter --lempeng tektonik yang menghampar di bawah samudera di lepas pantai Pulau Easter-- karena lempeng ini relatif terisolir dari sesar-sesar lain.

Fokus ini mempermudah upaya membedakan perubahan-perubahan dalam lempeng tektonik yang terjadi karena sistem iklim, dari yang tercipta akibat tumbukan. Sejak 1973, datangnya gelombang El Nino setiap sekian tahun berkorelasi dengan frekuensi gempa bawah laut berkekuatan magnitudo 4 dan 6.

Ilmuwan yakin, kemunculan El Nino dan terjadinya gempa bawah laut itu berkaitan. El Nino menaikkan permukaan air laut sampai puluhan centimeter. Ilmuwan juga yakin berat air ekstra bisa meningkatkan tekanan aliran fluida dalam pori-pori batuan dasar laut. Tekanan ini cukup menetralisir energi geseran yang menyangga batuan agar tetap di tempatnya, sehingga sesar-sesar menjadi mudah bergeser. "Perubahan pada tingkat permukaan laut terjadi pelan dan usikan kecil saja bisa berdampak luar biasa besar," kata Day.

Letusan Vulkanik

Perubahan kecil di samudera itu juga dapat mempengaruhi letusan vulkanik, sambung David Pyle dari Universitas Oxford. Setelah meneliti letusan-letusan vulkanik dalam 300 tahun terakhir, Pyle menilai karakter vulkanisme (aktivitas vulkanik) berbeda-beda, tergantung musim.

Menurut Pyle, letusan vulkanik di seluruh dunia 20 persen lebih sering terjadi di musim dingin (belahan bumi utara) ketimbang di musim panas.Itu karena tingkat permukaan air laut global turun perlahan selama musim dingin, dan berhubung daratan lebih banyak di belahan utara, maka air menjadi lebih banyak membeku menjadi es dan salju selama musim dingin (belahan selatan).

Sementara itu, kebanyakan gunung api teraktif di dunia hanya puluhan kilometer dari pantai. Ini menunjukkan, penyusutan bobot samudera di tepi benua yang terjadi secara musiman akibat menurunnya permukaan air laut, bisa memicu letusan vulkanik di seluruh dunia, ulas Pyle.

Pandangan bahwa beberapa gunung api meletus saat permukaan air laut turun, tak berarti bahwa naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim, akan menekan aktivitas vulkanik.Di Alaska, Gunung Pavlof lebih sering meletus pada bulan-bulan di musim dingin, sementara penelitian awal Steve McNutt dari Observatorium Gunung Api menyimpulkan, naiknya permukaan laut 30 cm setiap musim dingin, terjadi karena rendahnya tekanan udara dan kuatnya gelombang badai.

Lokasi Gunung Api Pavlof berada menunjukkan, bobot tambahan di samudera terdekat bisa menekan magma ke permukaan.Di wilayah lain, berat esktra samudera saat tingkat permukaan laut naik, bisa melengkungkan kerak bumi dan mengurangi pemampatan sehingga magma menjadi lebih mudah mencapai permukaan di gunung-gunung api terdekat, kata McGuire.

Semua contoh itu agaknya saling bertentangan, namun intinya setiap perubahan permukaan laut bisa mengubah tekanan di tepi benua yang cukup untuk memicu letusan gunung berapi yang sudah siap meletus, kata McGuire. Perubahan kecil dalam curah hujan bisa juga memicu letusan vulkanik. Pada 2001, letusan besar di gunung api Soufriere Hills di Pulau Montserrat di Karibia terjadi karena tingginya curah hujan.

Curah hujan yang tinggi ini menggoyahkan kubah gunung api hingga cukup untuk memuntahkan magma dalam perut gunung api.Kini, hujan tropis tampaknya sudah umum dianggap bisa memicu letusan gunung api, sedangkan menurut model ilmiah iklim, banyak kawasan, termasuk daerah tropis, bertambah panas akibat perubahan iklim.

Adrian Matthews dari Universitas East Anglia dan para koleganya, meneliti respons menit ke menit gunung berapi Montserrat setelah dikenai lebih dari 200 "rangsangan" selama tiga tahun. Tim peneliti menemukan, respons itu terlihat dari meningkatnya aktivitas vulkanik selama dua hari.Hujan harian meningkatkan kemungkinan keroposnya kubah gunung api dari 1,5 sampai 16 persen sehingga tak perlu menunggu hujan besar. "Anda juga tak perlu badai (untuk menggerogoti kubah gunung)," kata Matthews.

Lapisan Es
Mungkin hambatan geologis terbesar selama perubahan iklim adalah dampak mencairnya lapisan es. Di samping risiko bahwa sedimen-sedimen goyah yang muncul karena es mencair bisa menyelinap masuk laut sebagai longsor pemicu tsunami, tanggalnya lapisan es juga bisa memicu letusan gunung api."Bahkan penciutan (lapisan es) puluhan centimeter saja sudah cukup menciptakan perubahan," kata Andrew Russell dari Universitas Newcastle.

Contohnya glasier Vatnajokull di Islandia yang berdiri di atas batas lempeng dan sejumlah gunung api yang kemungkinan sirna dua abad nanti. "Jika itu sirna, Anda mesti berjuang membunuh kengerian dari membesarnya beban (samudera) yang akan meningkatkan aktivitas vulkanik," kata Russell.

Di awal zaman es terakhir, aktivitas vulkanik di Islandia utara meningkat hingga 30 kali lebih besar dibandingkan sekarang. Dan jika nanti gunung-gunung api di belahan utara yang tertutup es itu meletus, maka hamburan letusan akan menebari dunia. Ilustrasinya terjadi pada 1783 saat Gunung Berapi Laki di Islandia memuntahkan debu belerang ke seluruh Eropa sehingga benua ini mengalami satu musim dingin maut yang membunuh ribuan orang.

Saat ini memang belum jelas berapa besar perubahan iklim akan mempengaruhi frekuensi dan intensitas gempa bumi serta letusan gunung api mengingat kepekaan Planet Bumi terhadap iklim baru teramati intens belakangan ini. Selain itu, belum cukup data untuk menciptakan model pemrakira cuaca yang mengaitkan kedua sistem. "Tapi yang pasti, aksi manusia semakin mudah memprovokasi Planet Bumi," kata McGuire. ant/kpo

http://republika.co.id/berita/80963/Perubahan_Iklim_Sebabkan_Gempa_Tambah_Dahsyat
Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP
Ad
Ad