Hapuslah air matamu Ibu Pertiwi
Biarkan kami yang bermandi peluh,
bermandi debu dan bermandi lumpur
Biarkan kami yang akan menggendong duka dan laramu
Biarkan kami yang akan memikul semua ini

Tetap Semangat Wahai Anak Bangsa !!!
SEPERTI BURUNG ELANG,
JIKA INGIN TERBANG AKAN BELAJAR TERUS MENERUS SEBELUM BISA MENEMBUS ANGKASA RAYA...
ITULAH PG dan juga para PETUALANG SEJATI
Tampilkan postingan dengan label Harimau Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harimau Jawa. Tampilkan semua postingan

06 Mei 2010

Proyek Konservasi Harimau didukung dengan Camera Trap



Beberapa kamera penjebak
yang digunakan untuk identifikasi
keberadaan dan perkiraan
populasi harimau sumatera.
Photo: Syamsidar/WWF-indonesia
Pada pertengahan bulan Desember 2004, Proyek Koncervasi Harimau WWF di Riau mendapatkan sepuluh set Camera trap dari donor untuk digunakan di Tesso Nilo Bukit Tigapuluh lansekap. Camera trap sampai sejauh ini masih dianggap sebagai suatu alat yang efektif untuk mengidentifikasikan keberadaan harimau dan memperkirakan jumlah populasinya. Hal yang pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi daerah target, dan personel dari Tim Patroli Harimau (TPH) WWF telah melakukannya dengan menginterview masyarakat ketika mereka mendatangi lokasi-lokasi yang teridentifikasi memiliki keberadaan jejak harimau dan mendokumentasikan koordinat daerah-daerah tersebut. Informasi yang didapat dari survey lapangan oleh para personel TPH digunakan untuk menentukan lokasi-lokasi dimana camera-camera tersebut akan dipasang.

Pertemuan telah dilakukan oleh Tim Proyek Konservasi Harimau untuk mendiskusikan kebutuhan dan harapan dari penggunaan camera trap tersebut, presentasi dari seorang peneliti ( Sunarto) yang memberikan gambaran tentang metoda-metoda yang digunakan, saran-saran untuk kesiapan kerja lapangan tim, dan membuat target-target yang akan dicapai.

Tujuan dari survey camera trap ini adalah mendapatkan photo-photo harimau dan data tentang distribusi harimau di kawasan tersebut, mengidentifikasikan habitat yang lebih disukai harimau dan studi tentang konflik manusia dan harimau.

Yang sedang dilakukan oleh tim ini sekarang adalah menguji coba kecocokan peralatan tersebut, keuntungan dan juga kelemahannya, dan metoda yang akan digunakan di Tesso Nilo. Salah satu keuntungan dari alat tersebut adalah bahwa karena bobotnya yang ringan camera traps tersebut dapat dipindah-pindahkan lokasinya dan kotak penutupnya yang menyerupai kulit kayu menjadi suatu kamuflase yang baik dari gangguan hewan dan manusia.

Personel TPH sekarang ditugaskan untuk melakukan survey camera trap dilokasi-lokasi yang telah ditentukan sebelumnya. Mereka akan menempatkan satu camera pada setiap plot 3x3 km2 ( dengan dugaan tingginya keberadaan harimau). Hal ini tentu saja merupakan suatu tantangan besar bagi mereka karena mereka harus menembus kawasan-kawasan rimba di lansekap tersebut. Jikan photo-photo harimau dapat dihasilkan, tentu saja data tentang harimau yang lebih akurat di lansekap tersebut akan tersedia yang tentu saja dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan kampanye.

Pemasangan Camera Trap Di Talang 11



Pemasangan Camera Trap Di Talang 11, Pekon Raja Basa, Bengkunat, Lampung Barat

Pekon   Raja   Basa   termasuk   salah   satu   pekon   di   Kecamatan   Bengkunat   yang   sering mengalami  konflik  dengan  satwa,  terutama  konflik  dengan  Harimau Sumatera  (Panthera tigris  Sumatrae).  Dari  3  dusun  yang  ada  di  pekon  tersebut,  dusun  yang  paling  sering mengalami  konflik  adalah  Dusun  III  atau  lebih  dikenal  dengan sebutan Talang  11.  Untuk mengetahui  keberadaan  satwa  liar,  terutama  harimau  di  Talang  11,  WRU  melakukan pemasangan camera trap di Talang 11 selama 1 bulan penuh (26 Maret – 26 April 2008).
pasang trap Pemasangan Camera Trap Di Talang 11, Pekon Raja Basa, Bengkunat, Lampung Barat
TUJUAN KEGIATAN
Tujuan   dari   pemasangan   kamera   adalah   memastikan   keberadaan   Harimau   Sumatera (Panthera  Tigris  Sumatrae),  satwa  mangsa  harimau  dan  satwa  karnivora  lainnya  yang berada di Talang 11. Juga untuk menghitung jumlah minimal individu harimau dan satwa lain yang tertangkap kamera.
METODE
Tiga kamera yang akan dipasang terlebih dahulu diperiksa kelayakannya dengan mengecek sensor, battery, dan fungsi kamera. Selanjutnya  kamera diatur (setting) tanggal, jam, menit,  serta  tahun  pemasangan.  Kamera-kamera tersebut selanjutnya dipasang selama satu bulan di jalur harimau yang sudah teridentifikasi dengan mengunakan battery dua macam yaitu Energizer A2 untuk kamera satu pasang dan Energizer 9V untuk sensor satu pasang. Mengingat jalur yang dipasang kamera adalah  jalan yang sering dilewati manusia dan satwa, maka kamera disetel dengan durasi 5 menit. Ketinggian kamera dipasang ± 30 cm dari   permukaan   tanah. Kamera   dipasang   di  pohon   kelpa   sawit   milik perusahaan   perkebunan   kelapa   sawit   KCMU pada   koordinat:  Kamera   I:  418500/9392599, Kamera II:  418632/9392440, Kamera   III: 418467/9392425.
HASIL
Dari tiga kamera deer cam yang terpasang selama 30 hari, tercatat ada 9 jenis satwa yang ada di Talang 11. Yang mengejutkan, selain keberadaan harimau yang tertangkap kamera, juga  dijumpai  keberadaan  satwa  dilindungi  lainnya  seperti  tapir,  beruang,  muntjak,  dll.  Di bawah  ini  tabel  yang  memuat  jenis-jenis  satwa  yang  tertangkap kamera  beserta  estimasi jumlahnya di Talang 11.
No Nama satwa Jumlah gambar Estimasi jumlah individu
1 Harimau sumatra (Panthera tigrissumatrae).
6 gambar
1
2
Beruang Madu (Helarctos malayanus)
7 gambar
3
3
Tapir (Tapirus indicus)
6 gambar
2
4
Kucing kuwuk (Felis bengalensis)
1 gambar
1
5
Landak (Hystrix brachyura)
4 gambar
2
6
Beruk  (Macaca nemestrina)
4 gambar
3
7
Menjangan (Muntiacus muntjak)
3 gambar
1
8
Musang  galing (Paguma larvata)
2 gambar
1
9
Babi hutan ( Sus scrofa)
83 gambar
Tidak terhitung
TIM PEMASANGAN KAMERA:
1.   Rusli Usman
2.   Lilik P
3.   Watre
4.   Andi
5.   Asari

3.000 gulden bagi sebuah kepala harimau







Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), yang ukuran tubuhnya berada di antara ukuran tubuh subjenis harimau Sumatera dan harimau Bali, bertahan sedikit lebih lama. Pada tahun 1850-an, harimau Jawa dianggap sebagai 'gangguan' di beberapa daerah perkotaan dan pada tahun 1872 hadiah yang diberikan bagi sebuah kepala harimau yang terbunuh di Tegal, Jawa Tengah, adalah sekitar 3.000 gulden. Waktu itu ada beberapa lusin harimau dibunuh dalam usaha memperoleh hadiah tersebut.

Bahkan sampai abad ini harimau Jawa bukan tidak biasa ditemui dan meminta korban ratusan jiwa manusia setiap tahunnya, namun penduduk tidak mau memerangi harimau ini, karena jika mereka melakukannya, berdasarkan pengalaman, akan menyebabkan rusaknya tanaman mereka oleh serbuan kawanan babi. Meskipun demikian, seorang pemburu ulung Ledeboer mengaku telah menembak 100 ekor harimau antara tahun 1910 dan 1940. Selain itu keadaan menyedihkan yang dialami harimau ini tidak didukung oleh adanya permintaan terus-menerus dari pembuat topeng merak dan harimau Singabarong yang digunakan dalam pertunjukan tari tradisional reog ponorogo di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Sampai tahun 1940 harimau sering terlihat dan ditembak di bagian selatan Jawa Barat, dan kadang-kadang beberapa ekor mencapai daerah Subang dan Cibadak. Populasi ini kemudian merosot dan mendekati pertengahan tahun 1960-an, harimau Jawa hanya ditemukan di suaka alam Ujung Kulon, Leuweung Sancang, Baluran dan Meru Betiri.

Perlawanan perjuangan rakyat pada waktu itu menyebabkan kelompok-kelompok penduduk bersenjata mencari perlindungan di berbagai kawasan tersebut. Harimau mati karena tidak tahan terhadap serangan anthrax atau karena menipisnya populasi rusa.

Tidak satu pun kawasan hutan yang tersisa di jawa pada pertengahan abad ini merupakan habitat utama harimau dan hutan ini semakin lama semakin terpenggal-penggal. Jelas bahwa kepunahan harimau Jawa terjadi karena ruang gerak tidak tersedia lagi. Kesimpulan yang sama berlaku juga bagi harimau Bali, tetapi diperburuk ketika beberapa harimau yang masih tersisa dipromosikan sebagai sasaran olah raga berburu pada tahun 1930-an.

Berbagai survai yang dilakukan oleh PHPA dan World Wide Fund for Nature pada tahun 1976, menegaskan bahwa ada tiga ekor harimau di Taman Nasional Meru Betiri, tetapi tidak ditemukan bukti-bukti adanya perkembangbiakan. Binatang-binatang ini tidak membatasi kegiatannya hanya di dalam taman, namun mereka juga tidak menggunakan seluruh kawasan berhutan yang tersedia.

Pada tahun 1979 tiga ekor harimau masih tersisa. Presiden Soeharto menekankan kebutuhan untuk melindungi harimau tersebut, namun usaha ini memerlukan relokasi 5.000 buruh perkebunan. Beberapa politikus menganggap tindakan untuk menyelamatkan beberapa ekor harimau ini terlalu berlebihan, sehingga usaha konservasinya menjadi terhambat.

Berbagai instruksi yang diperlukan untuk melindungi harimau akhirnya dikeluarkan, namun tidak pemah benar-benar dilakukan sehingga pada pertengahan tahun 1980-an harimau Jawa tidak lebih dari sekedar simbol bagi divisi tentara Siliwangi dijawa Barat, binatang buruan ini tidak ditemukan oleh mahasiswa peserta berbagai ekspedisi, dan hanya simbol dorongan hati manusia.

Meskipun Meru Betiri merupakan tempat perlindungan terakhir bagi harimau, sebenarnya bukan merupakan habitat khusus yang tepat bagi harimau, dan secara alami harimau tidak akan hidup dalam kepadatan yang sangat tinggi, karena dataran alluvial yang lebih rendah yang menyediakan populasi mangsa besar terutama rusa telah diubah menjadi perkebunan, segera sesudah Perang Dunia II .

Laporan saksi mata dan jejak -jejak harimau dilaporkan ditemukan pada tahun 1979 di lereng Gn. Slamet bagian selatan yang berhutan, namun karena tidak ada pengamatan ulang semenjak itu, tampaknya tidak ada harapan harimau tersebut dapat bertahan hidup.

Menetapkan waktu kepunahan binatang yang secara metafisik memegang peranan penting seperti harimau, sulit dilakukan karena penduduk mempunyai kesan yang melekat erat tentang harimau , tidak mengherankan jika kadang-kadang laporan mengenai harimau tunggal yang terpencil muncul di berbagai surat kabar, tetapi hampir pasti apa yang diberitakan itu adalah macan kumbang Panthera pardus yang lebih mudah menyesuaikan diri , yang nama lokalnya sangat mirip.

Meskipun tidak pernah diumumkan secara resmi, seseorang dapat menyatakan, tanpa merasa takut akan munculnya pertentangan pendapat, bahwa harimau Jawa telah punah. Bukti-bukti kuat tentang keberadaannya tidak mungkin ditunjukkan sejak 15 tahun terakhir, meskipun banyak ekspedisi yang telah dilakukan. Luas Taman Nasional Meru Betiri hanya 50 km2, kawasan seluas ini secara normal dihuni enam atau tujuh ekor harimau betina dan tiga ekor harimau jantan. Jumlah yang sedikit lebih banyak dapat dipaksakan menghuni kawasan tersebut jika harimau-harimau itu memangsa binatang ternak di sekitar Taman Nasional.

Betulkah harimau Jawa masih eksis sampai hari ini?



Harimau Jawa adalah jenis harimau yang hidup di pulau jawa. Harimau ini dinyatakan punah di sekitar tahun 1980-an, akibat perburuan dan perkembangan lahan pertanian yang mengurangi habitat binatang ini secara drastis. Walaupun begitu, ada juga kemungkinan kepunahan ini terjadi di sekitar tahu 1950-an ketika diperkirakan hanya tinggal 25 ekior jenis harimau ini. Terakhir kali ada sinyalemen dari harimau jawa ialah di tahun 1972. Di tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di pulau Jawa. Walaupun begitu, ada kemungkinan kecil binatang ini belum punah. Di tahun 1990-an ada beberapa laporan tentang keberaadaan hewan ini, walaupun hal ini tidak bisa diverfikasi.
Di akhir abad ke-19, harimau ini masih banyak berkeliaran di pulau Jawa. Di tahun 1940-an, harimau jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil. Ada usaha-usaha untuk menyelamatkan harimau ini dengan membuka beberapa taman nasional. Namun, ukuran taman ini terlalu kecil dan mangsa harimau terlalu sedikit. Di tahun 1950-an, ketika populasi harimau Jawa hanya tinggal 25 ekor, kira-kira 13 ekor berada di Taman nasional Ujung Kulon. Sepuluh tahun kemudian angka ini kian menyusut. Di tahun 1972, hanya ada sekitar 7 harimau yang tinggal di Taman Nasional meru Betiri. Walaupun taman nasional ini dilindungi, banyak yang membuka lahan pertanian disitu dan membuat harimau jawa semakin terancam dan kemudian diperkirakan punah di tahun 80-an.
Harimau jawa berukuran kecil dibandingkan jenis-jenis harimau lain. Harimau jantan mempunyai berat 100-141 kg dan tingginya kira-kira 2.43 meter. Betina berbobot legih ringan, yaitu 75-115 kg dan sedikit lebih pendek dari jenis jantan.
Di samping harimau jawa, ada dua jenis harimau yang punah di abad ke-20, yaitu Harimau bali dan Harimau Persia. Secara Biologis, harimau jawa mempunyai hubungan sangat dekat dengan harimau bali. Beberapa ahli biologi bahkan menyatakan bahwa mereka adalah satu spesies. Namun, banyak juga yang membantah pernyataan ini.
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Carnivora
Famili: Felidae Genus: Panthera Spesies: P. tigris Subspesies: Panthera tigris sondaica
Analisis Morfometri Harimau jawa berdasarkan Foto tahun 1957 :
1. Panjang tubuh dari kepala sampai dengan pangkal ekor sekitar: 160 – 180 cm.
2. Tinggi bahu jika berdiri sekitar 85 – 100 cm.
3. Lebar tubuh sekitar 45 – 50 cm.
4. Panjang ekor sekitar 85 – 90 cm.
5. Diameter jejak kaki depan sekitar (20 x 20) cm – (23 x 23)cm.
6. Jarak antar dua kuku kaki depan yang berdekatan sekitar 4 – 6 cm.
7. Strip hitam ditubuh tipis dan banyak, ada yang bercabang dan hampir rapat.
8. Moncong hidungnya menyempit dan cenderung memanjang.
9. Coretan loreng di pipi tipis dan renggang.
10. Garis putih dibawah mata sangat lebar.
11. Dahinya agak menonjol, terutama di atas mata.
12. Sidik jidat renggang dan jarang.
13. Pola sidik jidat agak mundur kebelakang dari pertemuan hidung dan kepala diantara dua mata.
14. Surai panjang dan lebat di samping depan bagian bawah daun telinga.
15. Panjang rambut kumis berkisar dari 5 cm – 25 cm.
Ada sejumlah bukti yang menyatakan bahwa harimau Jawa masih eksis. Sekelompok orang yang begitu yakin keberadaan hewan yang dinyatakan punah itu melakukan riset. Apa tujuannya?
Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) sejak 1996 sudah dinyatakan punah dalam rapat Convention on International Trade in Endangered Species di Florida, Amerika Serikat (AS). Tapi ada sebagian orang yang percaya bahwa spesies itu masih eksis sampai hari ini. Peduli Karnivor Jawa (PJK), begitu mereka menamakan dirinya, sejak 1996 melakukan riset di beberapa lokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
“Terakhir kami menemukan jejak rambut harimau Jawa di kedua tempat tadi. Akan kami lakukan tes DNA untuk memastikannya,” ujar Didik Rahayono, Koordinator PJK kepada SH di Jakarta baru-baru ini. Menurut lelaki yang sehari-hari bekerja pada Divisi Inovasi Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa Liar Yogyakarta ini, studi keberadaan harimau Jawa lebih difokuskan pada arti spesies tersebut sebagai predator yang menjadi kunci ekosistem hutan di Jawa. “Harimau adalah hewan predator. Jika kondisi predator dalam suatu ekosistem masih bagus, berarti keseluruhan satwa lain juga bagus,” tutur Didik.
Dari studi di sejumlah titik seperti Meru Betiri, Raung, Alas Purwo, Wilis, Wijen, Gunung Slamet dan tempat lain, diperkirakan masih ada antara 15-20 harimau Jawa yang masih hidup.
Jumlah itu bisa saja menyusut kalau habitat mereka berkurang. Tapi kalau ada langkah perbaikan terhadap ekosistem hutan di Jawa, bukan tidak mungkin spesies tersebut bisa bertambah jumlahnya. Didik berpendapat, keyakinan bahwa harimau Jawa sudah punah sudah demikian mengakar, sehingga tidak ada akademisi yang berani melakukan penelitian lebih lanjut.
Sejak 1996, Didik bersama rekannya di PJK telah berhasil menemukan jejak kaki, feses, garutan di pohon dan rambut yang kesemuanya itu mengindikasikan masih adanya satwa endemik Jawa tersebut. Perlu dipahami, bahwa kehadiran spesies di suatu habitat dapat dideteksi berdasarkan bekas aktivitas yang ditinggalkannya, demikian halnya dengan harimau jawa.
Sebagai karnivor, harimau Jawa telah beradaptasi dengan sempurna guna menyembunyikan sosok tubuhnya agar tidak diketahui hewan mangsa. Sehingga tidaklah mudah melihat secara manual sosok harimau Jawa di hutan tropis Jawa, jika kita hanya setahun atau dua tahun mengunjungi habitatnya. Kecuali orang yang kesehariannya benar-benar berinteraksi dengan habitat harimau Jawa.
“Bekas aktivitas harimau Sumatera dan macan tutul di berbagai kebun binatang di Jawa kami jadikan sebagai referensi pembanding. Ukuran besarnya bekas aktivitas yang kami temukan jika melebihi ukuran maksimum macan tutul dan sama atau bahkan lebih besar dari ukuran harimau Sumatera, maka kami klaim sebagai milik harimau Jawa.
Hasil survei kami dari berbagai habitat di Jawa menemukan jejak kaki (28×26 cm), feses berdiameter 7 cm, garutan di pohon (luka tertinggi 252 cm), bahkan rambut harimau Jawa,” papar Didik di website www.javantiger.or.id yang sengaja dibuat sebagai kampanye keberadaan harimau Jawa.
Studi
Guna pembanding, Didik dan kawan-kawan menggunakan rambut macan tutul opsetan milik Museum Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Medula rambut harimau Jawa bertipe Intermediate berpola Regularem berbeda strukturnya jika dibandingkan medula rambut macan tutul yang bertipe Discontinue berpola Irregulare. Identifikasi menggunakan Scanning Electron Microscop (SEM) terhadap rambut yang berasal dari garutan baru di pohon.
Dari studi-studi itu, berhasil diketahui bahwa harimau Jawa tidak hanya di TN Meru Betiri, karena mereka juga menemukan rambut harimau Jawa di Jawa Tengah yang berjarak lebih dari 600 kilometer dari habitat terakhirnya. Akhirnya diambil kesimpulan bahwa habitat terakhir harimau Jawa adalah Pulau Jawa, bukan hanya TN Meru Betiri.
Foto harimau Jawa hidup di alam yang beredar secara internasional adalah hasil karya Hoogerwerf tahun 1938 dari Taman Nasional Ujung Kulon. Berbagai sumber publikasi ilmiah menyatakan bahwa harimau Jawa terakhir dibunuh sekitar 1941, setelah tahun tersebut hampir tidak ada laporan tentang pembunuhan satwa kharismatik dan endemik Pulau Jawa ini.
Tetapi hasil investigasi dan penelusuran informasi yang dilakukan oleh Mitra Meru Betiri (MMB) pada tahun 1998 mendapatkan sebuah data tentang foto sosok harimau Jawa terbaru (foto dari tahun 1957). Walaupun satwa tersebut sudah mati ditembak, namun kandungan informasi ilmu pengetahuannya sangat penting karena menjadi bukti ilmiah terbaru -19 tahun lebih muda daripada foto tahun 1938 hasil karya Hoogerwerf.
Foto tahun 1957 itu merupakan satu-satunya bukti ilmiah terkuat tentang besarnya ukuran tubuh yang dapat dicapai harimau Jawa jantan dewasa, karena memberikan informasi terbaru tentang pola loreng dan karakter sidik jidat harimau Jawa secara jelas. Foto tahun 1957 itu merupakan koleksi seorang mantan sinder dari sebuah perkebunan di eks. Karesidenan Besuki Jawa Timur.
Betulkah harimau Jawa masih eksis sampai hari ini? Agaknya tidak penting benar jawabannya. Dari tuturan Didik, yang lebih penting adalah bagaimana menjaga ekosistem hutan di Jawa sekarang ini agar spesies lain tidak senasib dengan harimau Jawa yang diberitakan punah. (merry Magdalena, Sinar Harapan 2003) 

Info : http://steph430.wordpress.com/2008/08/06/158/

Benarkah Harimau Jawa sudah punah?



Benarkah Harimau Jawa sudah punah? Spesies dengan nama latin Panthera Trigis Sondaica jumlahnya semakin sedikit dan dikabarkan sudah menampakkan batang hidungnya lagi di pulau Jawa ini. Macan Jawa atau Harimau Jawa ini memiliki ciri-ciri yang khas, berbeda dari jenis macan yang lain. Sang raja hutan ini memiliki ciri-ciri antara lain panjang tubuh dari kepala sampai pangkal ekor sekitar 160-180 cm dengan panjang ekor sekitar 85-90 cm. Memiliki diameter tapak kaki depan bisa mencapai 20x20cm hingga 23x23cm. Besaran tapak kaki ini bisa menutupi wajah manusia. Memiliki jarak dua kuku kaki depan yang berdekatan sekitar 4-6cm.

Memang tidaklah mudah mengidentifikasi sosok langka ini. Selain keberadannya yang semakin langka, Sang Raja Hutan ini lebih suka menghindari pertemuan dengan manusia. Yang mungkin bisa dilakukan manusia adalah mengenali dari kotorannya. Konon besa kotoran Harimau Jawa bisa mencapai diameter 3 cm atau lebih, terdapat rambut hewan yang baru saja dimangsa dan menyisakan tulang buruannnya dalam bentuk serpihan atau remah-remah. Sedikit berbeda dengan macan tutul, kotorannya berdiameter 2 – 2,5 cm serta hanya sedikit menyisakan tulang hewan buruannya.

Dari berbagai penelitian para ahli yang pernah dilakukan, menyebutkan bahwa salah satu tempat yang menjadi habitat Harimau Jawa, tetapi belum pernah dilakukan observasi adalah di Gunung Muria Jawa Tengah (wah...semakin menarik nih?). Bahkan pada bulan Juli tahun 2004, beberapa Mahasiswa dari Perguruan Tinggi ternama di Kota Kudus ini pernah bekerjasama dengan PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Yogyakarta untuk menelusuri jejak Harimau Jawa di Gunung Muria, walaupun belum menemukan hasil yang menggembirakan. Tahun 2008 yang lalu beberapa rekan dari SGC – scout game community, mencoba menelusuri jejak Harimau Jawa tersebut di lokasi yang berbeda berdasarkan informasi yang diterima dari penduduk setempat, namun belum membawa hasil juga. Walau demikian, menurut penuturan beberapa penduduk yang sudah terbiasa 'kluyuran' dan 'menginap' di hutan, meyakini bahwa mereka pernah melihat sosok Harimau Jawa tersebut setelah mendapatkan penjelasan tentang ciri-ciri spesies langka ini.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah seberapa pentingnya kita mengetahui keberadan Harimau Jawa yang katanya sudah dianggap punah itu? Bagi kami akhirnya hal itu tidaklah penting benar, tetapi kalau kita bisa menemukannya, maka kita dapat mematahkan pendapat yang mengatakan bahwa Harimau Jawa itu sudah punah. Sekarang ini yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana menjaga ekosistem hutan agar spesies lain tidak senasib dengan Harimau Jawa yang diberitakan telah punah itu. Kuncinya sederhana. Harimau adalah hewan predator. Jika kondisi predator dalam suatu ekosistem masih bagus, berarti keseluruhan satwa lain juga bagus. Demikian pula sebaliknya. Dan bila melihat hal tersebut, kami masih yakin bahwa Harimau Jawa belum punah
Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP
Ad
Ad