Hapuslah air matamu Ibu Pertiwi
Biarkan kami yang bermandi peluh,
bermandi debu dan bermandi lumpur
Biarkan kami yang akan menggendong duka dan laramu
Biarkan kami yang akan memikul semua ini

Tetap Semangat Wahai Anak Bangsa !!!
SEPERTI BURUNG ELANG,
JIKA INGIN TERBANG AKAN BELAJAR TERUS MENERUS SEBELUM BISA MENEMBUS ANGKASA RAYA...
ITULAH PG dan juga para PETUALANG SEJATI

11 Januari 2017

Terangmu, Gelapku Cirebon CoalFire



#KABUPATEN_CIREBON_DARURAT_SAMPAH

JANGAN LIKE SUKA, UNGKAPKAN DENGAN RASA SEDIH YANG MENDALAM KARENA KITA SEDANG DARURAT
#KABUPATEN_CIREBON_DARURAT_SAMPAH
Sungai Cisanggarung yang berbatas dengan Provinsi Jawa Tengah masih dirudapaksa oleh TPA Ciledug Kab. Cirebon. Tidak kurang 3000rb M3/hari sampah dari seluruh TPS masuk kesini ditambah sampah yang dibuang secara pribadi oleh perorangan maupun perusahaan juga dibuang ditempat ini.Sampah ditumpuk dijalan masuk TPA hingga sepanjang 200 meter dan anehnya tumpukan paling tinggi berada disepanjang bibir sungai. Jika banjir sudah bisa dibayangkan sampah ini akan terbawa hanyut, terbukti dengan adanya longsoran sampah setelah banjir.
Jarak antara TPA dengan tanggul sungai 350 meter, TUMPUKAN SAMPAH untuk mencapai tanggul butuh waktu antara satu atau dua minggu lagi. Lalu dimanakah sampah akan ditumpuk setelah mencapai tanggul.
LOKASI TPA tanahnya milik tanah Desa Ciledugwetan sementara jalan masuk milik tanah Desa Cileduglor Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon.
TIM ADVOKASI PETAKALAGRAGE
081324300415

Inilah kenapa disebut #Kabupaten_Cirebon_Darurat_Sampah



16 Desember 2016

TPA CILEDUG TERENDAM BANJIR SUNGAI CISANGGARUNG

ANDA WARGA KABUPATEN CIREBON BUANG SAMPAHNYA KEMANA ??? dISINILAH AKHIR SAMPAHMU
Kondisi TPA Ciledug yang berada di Bantaran Sungai Cisanggarung setelah terendam banjir pada rabu dan kamis 14-15 Desember 2016, TMA Sungai Cisanggarung dilokasi 850 Cm beberapa centi lagi limpas ke tanggul. 
#Save_Cisanggarung_Pintu_masuk_Jawa_Barat_dari_Timur





MASUK KORAAANNN...

17 November 2013


Dulklemoh Miyingmiying
27 September melalui seluler

LAWAN MEREKA....
Rawe- rawe rantas..... Malang-malang putung... Kita kan tetap berjuang agar desa kita tercinta, di mana kita lahir.... Tumbuh dan berkembang.... Serta dimana jasad kita akan dikebumikan tidak sampai terjual ke investor asing... Andai kita harus gugur berkalang tanah.... Mudah mudahan ini dinilai sebagai amal bakti pada bangsa.. Dan negara.... Berjuanglah terus......... Sampai pada batas kemampuan ahir kita... Dan jika kita harus bermandikan darah.... Darah kita kan menjadi saksi keihlasan kita...... TAK ADA YANG SIA -SIA.

Note : Saat ini tangan tangan angkara murka berkedok pembangunan kawasan industri sedang dan akan melahap 807 hektar lahan tambak udang, ladang garam dan sawah milik penduduk Desa Ambulu Kec. Losari Kab. Cirebon untuk dijadikan kawasan indsutri.

Padahal dalam RTRW Kab. Cirebon ditulis 2000 hektar kuota Kawasan Industri Besar itupun untuk 8 kecamatan, jika dibagi tiap kecamatn itu hanya membutuhkan lahan 250 hektar. Dari 2000 hektar itu sudah ada 500 hektar di Kec. Gempol untuk Pabrik Semen di tambah dikecamatan lain sudah 3 pabrik gula dan beberapa puluh hektar lagi sudah berdiri industri besar.

Kami bukan anti Industri Besar tapi kamipun berhak hidup dengan cara kami dalam mengelola lahan kami karena kamipun paham akan kelestarian alam dan generasi desa kami.

MERDEKA !!!

29 Maret 2013

RELINDO KOTA BANJAR JAWA BARAT

BATU NAGA DI PUNCAK GUNUNG TILU KUNINGAN

BATU NAGA BANJARAN JABRANTI
foto : MARI
Di Kuningan, Jawa Barat ada batu bergambar naga. Batu itu terletak di perbukitan di kawasan Dusun Banjaran, Desa Jabranti. Batu itu selama ini dikeramatkan warga. Bahkan kerap ada yang menaruh sesajen dan meminta berkah.

"Keberadaan batu tersebut telah lama diketahui masyarakat dan sebagian menggunakannya sebagai tempat mencari wangsit atau petunjuk gaib. Namun demikian, penelitian arkeologi belum pernah dilakukan pada batu tersebut," kata Arkeolog Ali Akbar saat berbincang, Kamis (14/3/2013).

Penelitian batu itu dilakukan Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) bekerjasama dengan Pemkab Kuningan. Batu itu persisnya berada di puncak Gunung Tilu yang menjadi perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

"Peneliti harus berjalan kaki selama 3 jam menembus hutan lebat untuk mencapai puncak. Medan perjalanan cukup berat karena harus menanjak dan tidak ada jalur pendakian. Menjelang sampai ke puncak gunung, terlihat batu-batu besar berserakan," jelasnya.

Yang cukup menarik, batu-batu di sekitar area kawasan itu berbentuk besar dan berserakan. Tapi belum bisa disimpulkan apakah batu-batu besar itu merupakan pernah menjadi sebuah bangunan.

"Batu-batu tersebut kemungkinan besar merupakan meninggalan purbakala berciri megalitik, mega artinya besar, litik artinya batu," tuturnya.

Di puncak gunung, ada dua batu tegak, masing-masing setinggi 1,6 meter. Jarak di antara kedua batu tersebut 1,5 meter sehingga terlihat seperti pintu gerbang. Dua batu tegak ini berada di utara dan seakan menyambut peziarah yang ingin melangkah masuk ke dalam. Di bagian selatan terdapat batu-batu besar seperti membentuk altar dan di atasnya terdapat gentong dari tanah liat.

"Relief naga terlihat jelas pada batu tegak tersebut," tuntasnya.

(ndr/mad)
SUMBER : http://news.detik.com/read/2013/03/14/150259/2194001/10/arkeolog-teliti-batu-bergambar-naga-yang-dikeramatkan-warga-di-kuningan

23 Maret 2013

PRESS RELEASE HIKESPI




Innalillahi wainnaillahirojiun, atas nama keluarga besar Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI), turut belasungkawa atas musibah kecelakaan di dalam Gua Serpeng/gua seropan.

Berikut kronologi kejadian.Pada tanggal 15-21 Maret 2013, Kami mengadakan Kursus Dasar dan Kursus Lanjutan (KDKL) Teknik Penelusuran Gua dan Lingkungannya 2013 di kawasan karst Gunung Sewu, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Pada tanggal 19 Maret 2013, Kami berencana melakukan penelusuran dan pemetaan Gua Serpeng/gua seropan di Desa Serpeng, Semanu.Gua Serpeng adalah Gua multi pitch dengan kedalaman pitch pertama 40 meter dan pitch kedua 20 meter. Gua Serpeng berada di posisi lembah dengan dikelilingi sawah dan kebun disekitarnya. Gua ini merupakan Gua yang sering digunakan untuk pelatihan penelusuran gua dan pemetaan bagi pecinta alam maupun penggiat gua. Cuaca dalam 2 minggu terakhir rata-rata cerah dan 2 hari terakhir hujan gerimis di sore hari. Sebelum kejadian kami selalu menganalisa cuaca untuk menentukan program kegiatan. 

Kegiatan penelusuran Gua Serpeng/gua seropan dimulai pukul 11.30 WIB dengan jumlah anggota 25 orang, terdiri dari 5 panitia dan 20 peserta KDKL. Pada pukul 15.00 WIB, dikarenakan keterbatasan waktu diputuskan peserta yang masuk hanya 10 orang, dan peserta dikondisikan untuk naik. Setelah proses naiknya 3 orang peserta, gerimis datang dan tidak terlalu lama (pukul 15.30 WIB) banjir bandang datang. 7 orang terjebak di bawah dengan seorang diantaranya masih dalam proses naik. 6 orang lainnya mencoba mencari posisi aman dari banjir bandang.

Pukul 15.30 WIB panitia membuat jalur evakuasi. Pukul 17.00 panitia berhasil turun mendekati dan mengecek kondisi korban. 3 orang berhasil dievakuasi, 3 orang meninggal dengan nama:

1. Ganang Samudra dari ISI Yogyakarta
2. Dian Putri Permatasari dari Matalabiogama Fak. Biologi UGM Yogyakarta
3. Hevin Faharisadari Mapala Satria Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Proses evakuasi dengan hauling system, dibantu potensi Polres, Polsek, SAR Baron, TNI, PMI Gunung Kidul dan masyarakat setempat. Proses evakuasi sendiri berakhir pada pukul 24.00 WIB.

Proses Kejadian
Pada pitch pertama dengan kedalaman sekitar 3 m team membuat lintasan main backup dengan backup anchor pohon dan main anchor lubang tembus yang dijadikan sebagai intermediate untuk turun ke pitch ke 2, di pitch ke 2 team membuat lintasan dengan menggunakan Y anchor dengan titik jatuh tali berada pada posisi tepi atas kiri (sesuai arah mulut goa) hal ini dimaksudkan untuk menghindari jatuhnya aliran air pada lintasan dengan kedalaman lorong sekitar 40 m, sampai pada pitch ke 3, team membuat lintasan dengan main backup pada sisi kanan lorong (sesuai arah hadap mulut goa) hal ini dimaksudkan guna menghindari jatuhnya air pada titik jatuh tali saat terjadi aliran air,namun karena waktu yang menunjukan sekitar pukul 15.00 sehingga team di intruksikan untuk kembali, dan tidak meneruskan penelusuran kelorong berikutnya, sehingga ada 15 orang yang tidak masuk sama sekali atau menunggu diluar goa, setelah 3 orang dari 10 orang sudah mencapai atas, gerimis datang dan dengan jarak waktu yang tidak lama sekitar pukul 15.30 banjir datang dan dilintasan dari pitch 3 ke pitch 2 masih ada satu orang proses naik dan 6 orang berada di ceruk pitch 3, dengan lintasan yang sudah dibuat di pitch 3 untuk turun kelorong berikutnya akhirnya satu orang berhasil turun di bawah pada pitch 4. Sedangkan 1 orang yang naik menuju pitch 2 terjebak di balik air terjun, dan 5 orang berada di cerukan pada pitch 3, bersamaan dengan datangnya air yang semakin besar team menyangkutkan pengamannya pada lintasan dan kemudian 1 orang dari 5 orang terseret arus air sehingga kelima- limanya ikut terseret arus, sehingga menyebabkan 5 orang ini tidak mampu bergerak sama sekali karena tekanan arus air hingga akhirnya 1 orang yang berada paling atas terselamatkan dan 3 orang dibawahnya meninggal dunia dan 1 orang dibawahnya lagi selamat.

Analisis Kondisi Cuaca
Secara prosedure dalam melakukan kegiatan yang dalam hal ini adalah Kursus Dasar dan kursus Lanjutan Penelusuran goa perlu adanya analisis cuaca, pada saat tanggal 15 – 21 merupakan musim yang dipilih dan sesuai dari berbagai pertimbangan (dari kebiasaan musim tanam masyarakat, BMG, WWWYR.NO dan pada tanggal yang tertera diatas menunjukan tanggal dengan musim akhir hujan, artinya musim dimana hujan yang masih turun namun jarang sekali, hal ini terbukti dengan tanggal pelaksanaan kegiatan selama tanggal 8 - 19 dengan turun hujan yang jarang, dan ketika hujan hanya beberapa menit, dan itupun terjadi hanya 2-4 hari sekali, pada saat teradi musibah tanggal 19 dengan pelaksanaan kegiatan di goa seropan/serpeng analisis 2 hari sebelumnya cuaca cerah, dan pada hari pelaksanaan pagi menunjukan cuaca cerah sehingga penelusuran dilaksanakan, namun sekitar pukul 10.00 gerimis datang namun dengan durasi waktu yang hanya sebentar, hal ini terjadi hanya sekitar 5 menit, dan sungai masih pada kondisi kering. Hanya genangan-genangan kecil dibeberapa titik sungai. Pada pukul sekitar 11.30 kondisi cerah dan panas sekali sehingga diputuskan untuk melakukan penelusuran.

Perijinan
HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia) merupakan lembaga resmi yang bergerak dibidang goa dan lingkunganya sejak 1983 , peran Hikespi selain berkecimpung dibidang keilmuan tentang speleologi juga sebagai lembaga resmi yang memberikan ijin kepada kelompok yang akan melakukan penelusuran goa dan pendidikan penelusuran goa, hal ini mengingat faktor resiko yang tinggi yang membutuhkan tekhnik khusus dan faktor sumber daya manusia, untuk masalah perijinan pada kegiatan ini sudah dilaksanakan dengan memberikan pemberitahuan kepada POLSEK SEMANU dan tembusan ke POLRES GUNUNG KIDUL, dengan lokasi di jomblang dan sekitaran kawasan karst gunung sewu. Secara lisan perijinan juga dilakukan kepada penduduk setempat sebelum melakukan penelusuran goa.

Asuransi
Selama kegiatan yang dilakukan dari tahun 1983 – 2013 Hikespi selalu mengadakan kursus dasar dan lanjutan hampir setiap tahun dan dalam satu tahun hampir 2-4 kali dilakukan, pada perjalanan selama ini panitia atau anggota HIKESPI selalu berusaha untuk membuatkan asuransi kepada peserta kursus namun sampai saat ini belum ada pihak lembaga/perusahaan asuransi yang memberikan ijin asuransi untuk kegiatan eksterm penelusuran goa,, sehingga sampai saat ini kegiatan kursus belum menemukan pihak pihak yang memberikan ijin untuk asuransi.

Tindakan setelah evakusai
Setelah evakuasi dilakukan sekitar pukul 24.00 semua korban dipindahkan ke rumah sakit, informasi pasti tentang identitas korban belum berani di publikasikan sebelum pihak madis(rumah sakit) memutuskan, dan informasi disampaikan ke orang tua terlebih dahulu.hal ini secara etis dilakukan oleh pihak panitia, setelah korban di identifikasi sekitar pukul 01.00 panitia mulai menghubungi pihak keluarga dan memohon ijin untuk tindakan awal yang harus dilakukan terhadap jenazah (dalam hal ini adalah memandikan, mengkavani, dan ditempatkan di tempat semestinya) setelah tindakan awal yang dilakukan semua jenazah dengan ijin keluarga sesegera di antarkan ke rumah duka masing – masing dengan di dampingi 2 pihak panitia. Setelah ketiga jenazah diberangkatkan ke rumah duka masing masing dengan didampingi panitia saya selaku ketua HIKESPI baru bisa berangkat ke rumah duka untuk turut berbela sungkawa. Dan dengan secara kekeluargaan menceritakan secara rinci tentang kronologi kejadian yang terjadi,

Rencana tindak lanjut
Untuk menjelaskan kejadian secara adil, ketua HIKESPI selaku perwakilan dari panitia memutuskan untuk membentuk team investigasi yang sesegera untuk dikerjakan, team investigasi ini dipilih dari team yang independen dan dari berbagai pihak yang kompeten antaranya dari pihak speleolog, pihak dari masing masing korban, pihak dari kelompok penelusur goa, pihak dari potensi rescue dan vertical rescue, pihak dari pakar goa. Hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi sebenarnya yang terjadi, hingga akhirnya dipilihlah Dr. Cahyo Rahmadi untuk membentuk team investigasi dan secara marathon dipilihlah Prof. Eko Haryono sebagai ketua team Investigasi dengan 16 anggotanya dan dengan sesegera melakukan pekerjaanya.

Secara kronologi yang kita tuliskan, kecelakaan ini murni bencana yang disebabkan oleh faktor alam yang diluar prediksi analisa kita.

Demikian kronologi kejadian ini kami sampaikan.Tidak lupa, atas nama panitia, Kami ucapkan terimakasihkepada seluruh potensi yang telah sangat membantu selama proses evakuasi. Kami memohon maaf dan turut berbela sungkawa kepada keluarga korban, ISI Yogyakarta, Matalabiogama Fak.Biologi UGM Yogyakarta, dan Mapala Satria Muhammadiyah Purwokerto. Semoga seluruh amal dan ibadahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dan yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kekuatan.Amin.

Yogyakarta, 22 Maret 2013
Ketua
FINSPAC/HIKESPI

(Cahyo Alkantana)

PENELUSURAN GUA : Korban Tewas Sempat Berkicau di Twitter Tentang Kematian

DIAN PUTRI

SOLO — Hari Rabu (20/3/2013), menjadi hari berkabung, setidaknya bagi tiga Universitas yakni UGM, UMP Purwokerto dan ISI Jogja. Mahasiswa ketiga universitas ini meregang nyawa saat mengikuti pelatihan selusur gua yang diadakan Himpunan Kegiatan Sepeleologi Indonesia (Hikespi).

Korban meninggal karena terjebak di Gua Seropan II, Dusun Serpeng, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, Selasa (19/3/2013) petang.

Salah satu korban meninggal, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dian Putri dua hari sebelum keberangkatan sudah memiliki firasat kurang baik.

Hal ini diketahui dari  akun twitter Dian Putri yakni @diannputrii. Sebelum berangkat Dian sempat berkicau di twitter bahwa ia memiliki pikiran yang negatif.
“”jadi berpikir negatif…” – random tmblr.co/ZW2cIygRcWHG,” tulis Dian, Minggu
(17/3/2013).
Proses Evakuasi Korban

Selain kicauan twitter tersebut, empat hari sebelumnya ia sempat bikin puisi yang berjudul “satu-satu”. Puisi Dian ini ia unggah di akun tumble-nya di http://dinntopup.tumblr.com.

Berikut puisi Dian yang juga ia tautkan di status twitternya.:

Satu-satu harus menghilang
Satu-satu akan datang
Dan satu-satu akan kembali
Sampai kapan berada di sini?
Di peraduan tanpa batas yang tak mengenal lelah
Memang manusia diciptakan untuk terus berkeluh kesah
Tapi bukan pada orang lain
Hanya kepadaNya
Allah. Tuhanku yang paling mengerti akan kehidupan fana ini

Di twitter akun @diannputrii dibanjiri mention dari sahabat dan koleganya. Mereka semua ingin mengucapkan belasungkawa dan mengenang jasa gadis berkacamata ini.

@qiztonk61 “Inalillahiwainailihirojiun.. Selamat jalan mbak @diannputrii makasih udah bantuin aku waktu awal di Jogja dulu.. semoga tenang di sisiNya :( “
@petualang_TNG “Selamat jalan kawan @diannputrii . Tuhan memanggilmu melalui alam. #caveincident #EvakSerpeng #AdvAccident”
@MAPALA_GEGAMA ”selamat jalan kawanku @diannputrii (kadiv caving matalabiogama).. semoga ditrima disisi-NYA, amin..”

Simak berita selengkapnya di: http://digital.solopos.com/file/21032013/
https://www.facebook.com/groups/brotherhoodpetakalagrage/doc/497867416917082/
Sumber :

http://www.harianjogja.com/baca/2013/03/20/penelusuran-gua-celaka-korban-tewas-sempat-berkicau-di-twitter-tentang-kematian-389645

PESERTA LATIHAN GABUNGAN NASIONAL VERTICAL RESCUE KAMPUNG INDRAHAYU DESA KARANGKANCANA KEC.KARANGKANCANA KUNINGAN KOMPLEK GUA INDRAKILA 15-17 MARET 2013

1 Agus Wawan Relindo Bekasi 
2 Yayah Relindo Bekasi 
3 Fitri Nurhayati Relindo Bekasi 
4 Rojikin Relindo Bekasi 
5 Slamet Purwanto Relindo Bekasi 
6 Putut Sumaryanto Relindo Bekasi 
7 Musyahid Bashar Relindo Bekasi 
8 Debbi Puspito Ilalang Banjar 
9 Anang Herdiana Ilalang Banjar 
10 G. Angga Pelopor Adv.Camp Depok 
11 Saeful Hidayah Kelakar Bogor 
12 Ayi Sungkawa Kelakar Bogor 
13 Yudo Prayitno ERG Bogor 
14 Yoga Prasetya ERG Bogor 
15 Asep Kurniawan Relindo Bekasi 
16 M. Nugraha Relindo Kota Bekasi 
17 Nani Suryani Kuningan 
18 Susi Susanti Indramayu 
19 Aam Amelia Bapik ITUS Kuningan 
20 Herlina Handayani Bapik ITUS Kuningan 
21 Intan Permatasari Bapik ITUS Kuningan 
22 Egin Aulia Bapik ITUS Kuningan 
23 Andri Saputra Bapik ITUS Kuningan 
24 Indra Bapik ITUS Kuningan 
25 Ade Agus Gunawan Cirebon 
26 Angga Pratama Cirebon 
27 Agus AR Karawang 
28 Sulaeman Karawang 
29 Idham (Ewer) Cirebon 
30 Muhammad Tarudi Cirebon 
31 Ahmad Saefudin Cirebon 
32 Abdullah Khaji Cirebon 
33 UbaidIllah Cirebon 
34 Khairunnisa Indramayu 
35 Widyawati Indramayu 
36 Siti Mariam Relindo BEM Sukabumi 
37 Eva Supriyanti Relindo BEM Sukabumi 
38 Bob Iskandar Relindo BEM Sukabumi 
39 Deden Supriyatna Relindo BEM Sukabumi 
40 Imam Relindo BEM Sukabumi 
41 Rohandi Relindo BEM Sukabumi 
42 Anna Adhitya Relindo BEM Jakarta 
43 Tedi Cahyadi PPA SMK Lugina 
44 Emi Priyono PPA SMK Lugina 
45 Risma Peristiawati PPA SMK Lugina 
46 Asep Suryana PPA SMK Lugina 
47 Syarif Pelatih PPA Lugina 
48 Tini T Pembina PPA Lugina 
59 Wiwit Indriyani PRAGA STIKKU Kuningan 
60 Deddy Madjmoe Petakala Grage 
61 Rasyid Candra Jasmapala Bandung 
62 Yayat Hidayat Jasmapala Bandung 
63 Robi Candra WANGPALA Indramayu 
64 Ratista hardiansyah WANGPALA Indramayu 
65 Rochma Firdaus Rumah Zakat & LSM Anak Negeri
66 Syahrul Akunk Relindo, dll 67 Dian santoso Mangroove Adt 
68 Ismail Mangroove Adt 
69 Japra Mangroove Adt 
70 Dudi Lutpy Relindo Jawa Barat 
71 Aria Pratama PRAGA STIKKU Kuningan 
72 Yoyon PRAGA STIKKU Kuningan 
73 Rohmat Hidayat PRAGA STIKKU Kuningan

22 Maret 2013

Hari Air Dunia


Hari ini 22 Maret 2013 warga dunia merayakan momen Hari Air. Air adalah sumber daya bersama yang tidak mengenal batas. Hal ini penting untuk kehidupan dan ekonomi, sosial dan manusia
pembangunan. Semua kegiatan manusia - serta lingkungan - tergantung pada ketersediaan kuantitas air dengan kualitas yang memadai.

Meskipun kemajuan telah dibuat, tetapi 782 juta didunia orang masih tanpa akses ke sumber-sumber peningkatan air minum dan 2,5 miliar tidak memiliki fasilitas sanitasi yang baik. 

21 Maret 2013

LATIHAN GABUNGAN NASIONAL VERTICAL RESCUE 2013

Kegiatan ini diikuti oleh 73 relawan kebencanaan (15-17/03) dari Bogor, Depok, Jakarta, Sukabumi, Bandung, Cirebon, Kuningan, Indramayu, Bekasi, Karawang dan Banjar Ciamis dsb

Komplek Gua Indrakila Kampung Indrahayu Karangkancana Kuningan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki beberapa tebing diantaranya Tebing Karang Nangtung
SESSI SURVIVAL BOTANI

PESERTA LATGAB BEKASI, SUKABUMI

SESSI PENGENALAN ALAT

TIM KESEHATAN MERANGKAP PESERTA

16 Desember 2010

Save Our Environment !

(Sebuah Pemikiran dalam Rangka Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2010)
Jika kita membahas mengenai lingkungan secara global, maka kita tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai Iklim. Beberapa dekade terahir ini, sejak dilangsungkannya revolusi industri, lingkungan global mengalami degradasi yang dampaknya sangat bisa dirasakan. Isu perubahan iklim secara global mulai gencar dibicarakan dikalangan para ahli klimatologi dunia yang kemudian memunculkan gagasan dilaksanakannya konverensi tingkat tinggi mengenai lingkungan dan pembangunan. Rencana tersebut kemudian di realisasikan pada bulan Juni 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Dalam konferensi itu kemudian dihasilkan suatu kesepahaman dengan ditandatanganinya Konvensi tentang perubahan Iklim. Sebagai nagara berkembang yang letaknya di daerah tropis, Indonesia banyak mendapatkan dampak negatif dari perubahan suhu secara global tersebut. Kenaikan suhu bumi hingga sepanas yang sekarang ini diakibatkan oleh meningkatnya jumlah gas buang seperti carbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O). Akibatnya berkubik-kubik es di kutub utara mencair, yang berdampak naiknya permukaan air laut, tenggelamnya pulau-pulau kecil, dan membaliknya air sungai yang mengalir kelaut yang menyebabkan banjir di beberapa kota di pesisir dengan kondisi topografi rendah.
Tidak hanya itu saja, dampak perubahan iklim lebih pahit dirasakan dikalangan para petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Suhu bumi yang kian memanas ini berdampak buruk pada pola pertanian yang mengandalkan musim hujan. Banyak petani yang mengeluh gagal panen karena kekurangan air atau karena tergenag oleh luapan sungai. Di lain pihak banjir/ genangan yang sifatnya lokal terjadi dimana-mana, karena hujan yang ekstrim satu atau dua hari saja. Tampaknya keberkahan alam sudah tidak lagi berpihak pada manusia. Hujan tidak lagi menjadi harapan karena airnya masuk kedalam tanah, sehingga dimanfaatkan dengan baik, melainkan hanya lewat begitu saja menjadi aliran permukaaan (run off) kemudian menggenang di beberapa tempat, bahkan menjadi banjir bandang menyapu rumah-rumah warga dibantaran sungai.
Hari Lingkungan
Hari lingkungan hidup sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 juni tampaknya hanya akan menjadi rutinitas tahunan saja, manakala manusianya tidak sadar betul akan kebutuhan lingkungan yang lebih baik. Kita sebenarnya sudah banyak menerima imbalan dari kerusakan lingkungan yang diperbuat oleh tangan manusia seperti yang saya sebutkan sebelumnya tadi, namun masih saja kita lihat kerusakan hutan akibat ilegal logging, penambangan yang mengabaikan kerusakan lingkungan, perambahan kawasan-kawasan lindung menjadi lahan budidaya, dan lain-lain.
Pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2010 ini United Nations Environment Programme (UNEP), selaku koordinator yang dibentuk PBB sejak 1977 mengangkat tema “Many Species. One Planet. One Future” atau “Banyak Species. Satu Planet. Satu Masa Depan”. Tema ini diangkat dalam rangka mengajak kepada masyarakat dunia untuk melestarikan keanekaragaman hayati demi masa depan planet Bumi. Keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna jka dilestarikan maka semuanya akan membentuk suatu keseimbangan ekosistem alam yang akan bermanfaat bagi manusia.
Sadar Lingkungan
Kesadaran akan kondisi lingkungan yang kita tempati akan menumbuhkan komitmen dan kemauan untuk merubah gaya hidup dan pola fikir yang lebih mengedepankan aspek lingkungan. Sadar akan dampak negatif perubahan iklim secara global bagi negara berkembang seperti kita, maka sangatlah penting jika negara ini mengambil langkah proaktif dalam usaha mitigasi untuk mencegah sedemikian rupa perubahan iklim. Sudah bukan saatnya lagi hanya mengeluh karena dampak dari tindakan kita sendiri. Tidak ada kata terlambat dalam upaya memperbaiki lingkungan. Bila dampak kerusakan lingkungan telah seperti sekarang ini, maka yang perlu kita lakukan adalah beradaptasi, sembari kita terus berbenah dan peduli terhadap lingkungan. Praktek-praktek konservasi lingkungan perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas agar semua bisa turut ambil bagian dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan. Upaya-upaya yang bisa dilakukan adalah: pertama- bagi masyarakat yang menganggap dirinya sudah modern seperti sekarang ini, perlu banyak belajar lagi kepada para pendahulu dalam upaya pengelolaan lingkungan. Para pendahulu sudah banyak terbukti kearifannya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kedua- penanganan kerusakan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh dengan pendekatan spasial dan ekologis, sehingga perlu adanya kerjasama semua stake holder, agar tidak lagi terkotak-kotak dalam batasan administratif. Ketiga- peraturan yang jelas dan tegas dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan harus ditegakkan.
Komitmen kita untuk berfikir dan melakukan tindakan memperbaiki lingkungan sudah saatnya direalisasikan. Mari kita berfikir global dan bertindak secara lokal yang dimulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan tentunya mulai sekarang untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Sumber :  
http://earthcruiser.blog.uns.ac.id/2010/07/09/41/

22 November 2010

HuJan Datang Lahar Dingin Mengharu Biru

Lahar dingin mengalir deras melewati Dam Sabo Kali Kuning, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, pascaerupsi Gunung Merapi yang dibarengi hujan deras, Rabu (3/11/2010). Pascaerupsi yang juga menimbulkan luncuran awan panas tersebut, radius Kawasan Rawan Bencana ditingkatkan dari 10 kilometer menjadi 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Petang Lahar Dingin, Malam Ini Mengungsi
Senin, 22 November 2010 | 00:03 WIB
MAGELANG, KOMPAS.com - Puluhan warga di kawasan tepi Kali Senowo, Dusun Bendo, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 10 Km barat puncak Gunung Merapi mengungsi, Minggu (22/11/2010) malam.
Mereka khawatir akan datangnya banjir lahar dingin. "Sekitar 30 warga kami ungsikan di rumah warga Dusun Karanglo, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan yang cukup aman dari bahaya banjir lahar dingin," kata Kepala Dusun Bendo, Sudiyono (48), di Magelang, Minggu malam.
Banjir lahar dingin yang oleh warga lereng Merapi biasa disebut "banjir ladhu" dengan arus air deras membawa material Merapi seperti pasir, batu, dan potongan batang pohon, terjadi sekitar pukul 17.00-19.00 WIB saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Suara gemuruh karena tumbukan batu yang terbawa arus air terdengar warga setempat cukup kuat selama beberapa saat. Ia mengatakan, mereka yang diungsikan dari dusun setempat ke Sawangan terutama para perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia.
Mereka yang mengungsi diangkut dengan mobil relawan lokal dari dusun setempat ke lokasi lebih aman. Rumah lantai dua milik warga setempat bernama Rudi Setyawan (38) berukuran 26X7,5 meter yang berada di tepi aliran Sungai Senowo yang airnya berhulu di Merapi terkena "ladhu" di bagian belakangnya.
Selain itu, dua petak sawah di tepian kali tersebut juga tertutup "ladhu" cukup tebal karena banjir lahar dingin yang keempat selama Merapi meletus sejak 26 Oktober 2010, katanya.
Jumlah warga setempat sebanyak 33 kepala keluarga atau 114 jiwa. Pada Minggu malam warga laki-laki masih berjaga di dusun setempat dan airnya mulai menyusut sejak sekitar pukul 19.30 WIB, katanya.
Seorang warga Dusun Kajangkoso, Desa Mangunsoko yang juga dekat aliran Kali Senowo, sekitar sembilan Km barat puncak Merapi, Jais, mengatakan, sekitar 100 warga mengungsi ke sejumlah rumah tetangga di sebelah desanya yang dibatasi dengan aliran kali cukup kecil.
"Tadi sekitar 100 orang mengungsi ke Sewukan, berjalan kaki melewati jembatan kecil penghubung dengan Kajangkoso ini," katanya. Dikatakan, hingga saat ini, sekitar 10 warga terutama laki-laki berjaga di dusun setempat.
Hujan reda di kawasan itu sekitar pukul 20.00 WIB, sedangkan Gunung Merapi terlihat samar-samar karena tertutup kabut tipis sekitar pukul 23.00 WIB.
  Sumber :ANT

11 November 2010

Merapi Muntahkan Material 140 Juta Meter Kubik

Yogyakarta (ANTARA) - Gunung Merapi muntahkan material vulkanik 140 juta meter kubik sejak meletus 26 Oktober 2010 sampai sekarang, atau melebihi volume material vulkanik hasil erupsi pada 1872 yang mencapai 100 juta meter kubik.
"Itu artinya, jika diukur dengan indeks letusan, maka letusan pada 2010 lebih besar dibandingkan dengan letusan Merapi pada 1872 yang pernah tercatat dalam sejarah letusan gunung berapi ini," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo, di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan besar indeks letusan adalah dari volume material vulkanik yang dimuntahkan Merapi. "Sejak letusan pada 26 Oktober 2010 volume material vulkanik yang dilontarkan Merapi mencapai 140 juta meter kubik, dan aktivitas seismiknya sampai sekarang belum berhenti," katanya.
Ia menyebutkan sebagian besar material vulkanik gunung tersebut mengarah ke Kali Gendol, dan kini bagian atas sungai itu telah dipenuhi material vulkanik. "Oleh karena itu, kemungkinan terjadi banjir lahar di sejumlah sungai yang berhulu di Merapi sangat besar, karena gunung ini mulai sering diguyur hujan dengan curah tinggi dalam waktu yang lama," katanya.
BPPTK terkait dengan aktivitas Merapi mencoba melakukan pemantauan dari udara dengan foto udara. "Kini, kami masih terus melakukan analisis terhadap hasil foto tersebut," katanya.
Subandriyo mengatakan ada beberapa kendala saat melakukan pemotretan dari udara, yaitu kolom asap yang masih tebal, sehingga menghalangi pandangan untuk melihat kondisi puncak Merapi.
Berdasarkan hasil pemantauan hingga pukul 12.00 WIB, masih terjadi gempa tremor secara beruntun yang mengindikasikan adanya aktivitas magma di dalam gunung ini.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono mengatakan ada sejumlah ahli vulkanologi dan geologi dari beberapa negara ingin membantu melakukan pemantauan aktivitas Merapi. Sejumlah ahli vulkanologi dan geologi tersebut berasal dari Jepang, Amerika Serikat, dan Prancis.
"Kami persilakan saja. Merapi merupakan laboratorium dunia, sehingga siapa pun bisa melakukan penyelidikan, apalagi letusan gunung ini tidak terjadi setiap satu tahun sekali," katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mengikuti instruksi pemerintah, yakni berada di radius aman yaitu di luar 20 kilometer dari puncak Merapi.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari sungai, khususnya sungai yang berhulu di Merapi, guna menghindari bahaya lahar dingin.
Berdasarkan data dari BNPB, jumlah korban meninggal dunia akibat letusan Merapi sejak 26 Oktober sampai sekarang 151 orang, terdiri atas 135 orang di wilayah DIY, dan 16 orang di Jawa Tengah. Sedangkan jumlah pengungsi seluruhnya 320.090 jiwa.
Letusan Gunung Merapi pada 2010 merusak 291 rumah, dan satu tanggul jebol di Desa Ngepos akibat luapan lahar dingin.
Ke Kali Gendol
Aktivitas seismik Gunung Merapi pada Selasa hingga pukul 06.00 WIB cenderung menurun dibandingkan dengan Senin (8/11), sedangkan dari pengamatan visual dapat terlihat guguran lava yang mengarah ke Kali Gendol.
Berdasarkan laporan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Surono di Yogyakarta, Selasa, guguran lava yang dapat diamati melalui CCTV di Plawangan terjadi dua kali, dengan jarak luncur sekitar 800 meter.
Dari pos pengamatan sementara di Ketep, masih sering terdengar suara gemuruh dengan intensitas lemah hingga kuat, serta terlihat sinar api dan guguran lava. Sekitar pukul 05.00 WIB Merapi kembali mengeluarkan kolom asap dengan ketinggian sekitar 1,5 kilometer.
Secara umum, menurut dia, aktivitas seismik khususnya intensitas awan panas dan guguran lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada Senin (8/11).
Hingga pukul 06.00 WIB terjadi satu kali gempa vulkanik, tiga kali gempa "low frequency", gempa tremor secara beruntun, 20 kali guguran, dan satu kali awan panas.
Sementara itu, bahaya lahar selain awan panas yang diluncurkan Gunung Merapi masih tetap menjadi ancaman, karena semakin bertambahnya material vulkanik hasil erupsi yang berada di sepanjang alur sungai.
Endapan lahar di Kali Boyong telah memenuhi dam BOD III di Dusun Kemiri yang berjarak 12 kilometer dari puncak Merapi. Sedangkan di Kali Kuning dan Kali Woro aliran lahar berupa fraksi halus dapat teramati di Desa Wukirsari dan Desa Kendalsari.
Status Merapi hingga kini masih tetap "awas" atau Level 4, dan warga masyarakat tetap harus berada di luar radius 20 kilometer dari puncak gunung.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas di sepanjang aliran sungai yang berhulu di gunung tersebut guna menghindari kemungkinan terjadi awan panas dan banjir lahar.
Gempa tidak berpengaruh langsung
Gempa dengan kekuatan 5,6 skala Richter yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada pukul 14.03 WIB, Selasa, tidak berpengaruh secara langsung terhadap aktivitas seismik Gunung Merapi.
"Kejadian gempa tersebut juga tercatat melalui alat pemantauan kami, tetapi dapat dikatakan bahwa gempa yang cukup besar tersebut tidak mempengaruhi secara langsung aktivitas Merapi," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo di Yogyakarta, Selasa.
Ia mengatakan, apabila gempa tersebut mempengaruhi secara langsung terhadap aktivitas Merapi, maka gunung api aktif tersebut setidaknya akan langsung memuntahkan awan panas.
"Tetapi, pada kenyataannya, sama sekali tidak terpantau adanya awan panas sesaat setelah gempa tersebut. Sehingga gempa 5,6 SR itu tidak berpengaruh secara langsung pada aktivitas Gunung Merapi," katanya.
Pada 2006, sesaat setelah terjadi gempa bumi 27 Mei, aktivitas Merapi meningkat dengan mengeluarkan awan panas.
Namun demikian, ia mengatakan gempa tersebut kemungkinan bisa mempengaruhi aktivitas Merapi dalam jangka panjang. "Kita lihat bagaimana perkembangannya dalam beberapa waktu ke depan. Mungkin ada pengaruhnya, mungkin juga tidak berpengaruh sama sekali," kata Subandriyo.
Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan 5,6 SR tersebut, pusat gempanya di 125 kilometer barat daya Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan kedalaman 10 kilometer di laut, dan tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan hasil pemantauan secara seismik atau pun visual dari sejumlah pos pengamatan Gunung Merapi hingga pukul 12.00 WIB, aktivitas gunung ini mereda. "Tetapi, mereda bukan berarti menurun, sehingga status `awas` tetap dipertahankan," katanya.
Berdasarkan data hasil pemantauan kegempaan hingga pukul 12.00 WIB, terjadi satu kali gempa vulkanik, tiga kali gempa "low frequency", gempa tremor secara beruntun, 22 kali guguran dan satu kali awan panas.
Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Toni A Wijaya, di Yogyakarta, Selasa, mengatakan, gempa bumi tektonik berkekuatan 5,6 SR pada Selasa pukul 14.03 WIB dengan pusat gempa di 125 kilometer barat daya Bantul tersebut, tidak ada kaitannya dengan aktivitas Gunung Merapi.
"Gempa itu tidak ada kaitannya dengan Merapi, karena gempa selama beberapa detik itu pusat gempanya di laut, dan terjadi karena penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia di Samudra Hindia," katanya.
Namun demikian, menurut dia perlu ditanyakan kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, atau Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta apakah gempa tersebut mempengaruhi aktivitas magma Gunung Merapi.
Ia menegaskan kembali bahwa gempa tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas Gunung Merapi, hanya kebetulan saja gempa terjadi bersamaan dengan erupsi gunung itu yang sampai sekarang masih berlangsung. "Jadi, tidak ada kaitannya, dan masyarakat tidak perlu cemas," katanya.
Gempa di kedalaman 10 kilometer di laut itu, mengguncang sebagian wilayah DIY dan sekitarnya. Pusat gempa ini di posisi 8,98 Lintang Selatan - 110,08 Bujur Timur.
Menurut BMKG, meskipun pusat gempa di laut, namun tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Kerugian pertanian Rp232 miliar
Kerugian sektor pertanian di tiga kecamatan di Kabupaten Sleman akibat letusan Gunung Merapi di perkirakan mencapai sekitar Rp232 miliar. "Akibat terkena abu vulkanik letusan Gunung Merapi, petani di Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan dan sebagian Tempel diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp231 miliar," kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Riyadi Martoyo, Selasa.
Menurut dia, kerugian paling besar dialami para petani salak pondoh yang diperkirakan mencapai sekitar Rp200 miliar dengan luas 1.400 hektare, kemudian tanaman padi Rp1,7 miliar dengan luas lahan 170 hektar, tanaman hias Rp1 miliar, holtikulturan dan sayur-sayuran mencapi Rp30 miliar di luas lahan 700 hektar.
"Wilayah pertanian yang rusak kali ini hanya di tiga kecamatan yang merupakan daerah Kawasan Rawan Bencana (KRB) sedangkan untuk wilayah lainnya hingga sekarang tidak masalah akibat abu vulkanik," katanya.
Ia mengatakan, untuk tanaman salak pondoh, sekitar 65 persen tanahnya rusak berat padahal tanaman komiditi yang sudah mampu menembus pasar interansional ini salak merupakan sumber ekonomi pokok masyarakat di wilayah lereng Gunung Merapi tersebut.
"Untuk memulihkan kondisi tanah dan tanaman seperti semula dibutuhkan waktu sekitar dua tahun lagi karena tanaman salak pondoh tersebut harus pangkas dulu supaya bisa tumbuh kembali. Jadi nanti tidak perlu dicabuti, tapi tinggal dipangkasi saja sudah cukup dan ini membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak," katanya.
Riyadi mengatakan biasanya dinas memberikan bantuan bibit hanya untuk petani padi saja, sedangkan petani lainnya hanya mendapatkan bantuan pupuk. "Namun kemungkinan nanti bagi petani holtikultura akan mendapatkan bantuan pengutan modal dan petani salak pondoh alat pemangkas," katanya.
Ia mengatakan, bantuan benih padi sudah rutin dilakukan tiap tahun sedangkan untuk petani holtikultura mungkin nanti akan diberikan bantuan penguatan modal.
"Namun, semua itu harus dilihat dulu dan harus ada verifikasi. Sedangkan petani salak nanti akan kami usahakan agar bisa mendapat bantuan alat pemangkas agar lebih cepat mangkasnya," katanya.
Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, DIY, siap dijadikan tempat relokasi pengungsi bencana Gunung Merapi apabila Badan Nasional Penanggulangan Bencana memilih wilayah ini.
"Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Kidul pada prinsipnya tidak keberatan jika nanti daerah ini dijadikan wilayah relokasi warga yang daerahnya terkena dampak letusan Gunung Merapi," kata Wakil Bupati Gunung Kidul Badingah, di Wonosari, Selasa.
Ia mengatakan untuk melakukan relokasi, banyak hal yang harus diperhatikan Pemkab Gunung Kidul, DIY dan pemerintah pusat, terutama mengenai teknis relokasi, lahan penempatan bagi warga, serta kesiapan infrastruktur.
Menurut dia, latar belakang warga yang akan direlokasi juga harus diperhatikan guna menghindari kemungkinan muncul masalah sosial di kemudian hari. "Relokasi merupakan program yang tidak sederhana, karena menyangkut kelangsungan hidup warga masyarakat, jangan sampai nanti malah menimbulkan masalah sosial di kemudian hari. Oleh karena itu, mata pencaharian warga juga harus diperhatikan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Gunung Kidul Setiyawan mengatakan warga di sekitar Merapi yang sebagian besar adalah petani ternak sapi perah, apabila direlokasi ke kabupaten ini tentu akan mengalami sedikit kendala terkait dengan mata pencaharian mereka.
"Warga masyarakat di sekitar Merapi sebagian adalah petani ternak sapi perah, dan apabila direlokasi ke Gunung Kidul, tentu akan menurun penghasilannya karena sapi perah kurang cocok dengan cuaca Gunung Kidul," katanya.
Wakil Ketua DPRD Gunung Kidul Slamet mengatakan secara regulasi kebijakan untuk merelokasi warga daerah bencana Merapi ke Gunung Kidul tidak ada masalah. "Namun, sebelum hal itu dilaksanakan, perlu dilakukan kajian yang mendalam," katanya.
Ia mengatakan relokasi warga secara regulasi kebijakan dapat dilakukan selama warga tidak keberatan. "Kalau Pemkab Gunung Kidul sepakat kabupaten inisebagai daerah relokasi, saya kira DPRD juga tidak ada masalah selama ada kejelasan program jangka panjang, karena relokasi tidak hanya bersifat jangka pendek, yakni hanya sekadar memindahkan orang," katanya.
Untuk itu, menurut dia, harus dilakukan kajian secara mendalam sebelum relokasi dilakukan.
Slamet mengatakan kesiapan lahan untuk relokasi warga Merapi di antaranya dengan pembebasan tanah milik masyarakat atau menggunakan kawasan hutan. "Lahan relokasi dapat menggunakan lahan milik masyarakat, selama teknis pembebasan lahan disepakati kedua pihak, atau menggunakan kawasan hutan yang ada di Gunung Kidul, yang secara kewenangan merupakan milik Pemerintah Provinsi DIY," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan dan Kehutanan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto mengatakan kawasan hutan rakyat di kabupaten ini pada 2009 seluas 29.073,98 hektare yang tersebar di 18 kecamatan. "Sedangkan hutan negara seluas 13.109,10 hektare, katanya. "Kawasan hutan negara seluas 291,20 hektare menjadi hutan kemasyarakatan yang dikelola 35 kelompok tani hutan negara," katanya.
Pendampingan psikologi
Pengungsi korban letusan awan panas Gunung Merapi yang ditampung di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mendapatkan pendampingan psikologis dari mahasiswa maupun psikolog universitas tersebut.
"Setiap hari ada pendampingan dari mahasiswa fakultas psikologi maupun para psikolog yang memberi pendampingan pengungsi," kata Ketua Tim Relawan Penanganan Pengungsi Universitas Gadjah Mada (UGM) Laura di Yogyakarta, Selasa.
Ia mengatakan selain program "trauma healing" atau pemulihan trauma para pengungsi juga didorong untuk melakukan aktivitas harian. "Misalnya ibu-ibu didorong untuk membantu dapur umum, pengungsi yang berprofesi sebagai guru didorong untuk mengajar anak-anak yang berada di pos pengungsian, sedangkan anak-anak diajak bermain bersama," katanya.
Dengan demikian, kata dia, para pengungsi tersebut akan merasa berguna sehingga diharapkan akan muncul motivasi untuk bangkit dari keterpurukan terkena letusan gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Program `trauma healing` tidak cukup untuk membangun motivasi mereka, oleh karena itu para pengungsi harus diperlakukan sebagai subyek, bukan sekadar obyek penderita," katanya.
Selain itu, kata dia persediaan logistik untuk pengungsi korban letusan Gunung Merapi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari.
"Saat ini bantuan logistik dari berbagai pihak terus berdatangan. Kami menyediakan dapur umum mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan makan pagi hingga 1.000 porsi. Kekurangannya dapat terpenuhi dari bantuan berbagai pihak," katanya.
Sedangkan untuk kebutuhan makan siang dan malam pengungsi, kata dia, selama tujuh hari ke depan disuplai oleh Hotel Hyatt. "Di UGM ada 1.084 pengungsi yang ditampung di gelanggang mahasiswa dan gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjoseomantri," katanya.
Dua tempat pengungsian untuk korban bencana erupsi Gunung Merapi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dilengkapi mobil pintar bantuan dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu.
"Mobil pintar itu ditempatkan di Gelanggang Mahasiswa dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dijadikan tempat pengungsian," kata relawan Azwar di Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia, mobil pintar itu membawa ratusan buku bacaan yang bisa dipinjam, khususnya anak-anak untuk dibaca. Mereka juga mendapat pembagian buku gambar untuk diwarnai.
Selain itu, juga disediakan berbagai alat permainan seperti bola dan papan catur untuk bermain anak-anak. Di tempat pengungsian itu juga disediakan televisi berukuran besar untuk memberikan hiburan kepada para pengungsi khususnya anak-anak.
Ia mengatakan, kegiatan bermain khususnya bola dan catur memang ditekankan bagi anak-anak korban Merapi di pengungsian. Mahasiswa yang menjadi relawan ikut mendampingi anak-anak dan mengemas berbagai permainan menarik.
"Sebenarnya bukan hanya permainan maupun nonton televisi, kami setiap pagi juga mengadakan senam bersama para pengungsi agar tubuh tetap segar," katanya.
Seorang pengungsi anak, Iyan (12) siswa kelas 6 SD Candirejo, Sleman, DIY, mengatakan, selama di pengungsian merasa cukup terhibur, karena banyak kegiatan dan permainan yang bisa mereka lakukan untuk menghilangkan bosan dan mengisi waktu.
"Selain catur, saya juga bisa bermain bola dan menonton film di televisi. Saya sering main bola pada sore, sedangkan malam bisa nonton film," katanya.
Jumlah pengungsi di Gelanggang Mahasiswa UGM sebanyak 236 jiwa terdiri atas 116 laki-laki dan 120 perempuan, sedangkan di PKKH UGM ada 812 jiwa meliputi 397 laki-laki dan 415 perempuan.
Tak ada wisuda
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta meniadakan upacara wisuda program sarjana dan diploma periode November 2010 karena erupsi Gunung Merapi. "Upacara wisuda yang rencananya diadakan pada 18 November 2010 ditiadakan, karena sedang terjadi erupsi Gunung Merapi," kata Kepala Humas dan Protokoler Universitas Gadjah Mada (UGM) Suryo Baskoro, di Yogyakarta, Selasa.
Ia mengatakan keputusan tersebut berdasarkan surat keputusan rektor UGM dengan mempertimbangkan situasi Yogyakarta yang belum kondusif karena terkena dampak letusan Merapi.
"Transportasi, terutama penerbangan dari dan ke Yogyakarta masih belum dapat dipastikan kapan pulihnya. Sarana akomodasi juga masih terbatas, sehingga akan menyulitkan orang tua calon wisudawan yang datang dari luar Yogyakarta," katanya.
Selain itu, kata dia, saat ini sebagian sivitas akadmeika UGM juga sedang fokus menangani pengungsi korban bencana Merapi yang ditampung di beberapa tempat di lingkungan kampus setempat.
"Ada 1.440 calon wisudawan program sarjana dan 300 calon wisudawan program diploma yang rencananya akan mengikuti upacara wisuda, dan kami berharap mereka dapat memahami situasi ini," katanya.
Menurut dia, peniadaan upacara wisuda tidak akan mempengaruhi esensi pendidikan yang telah ditempuh calon wisudawan. "Ijazah, samir, dan buku kenangan, tetap akan dibagikan di masing-masing fakultas pada 18 November 2010," katanya.
Sebelumnya, kegiatan akademik di UGM diliburkan pada 8-13 November 2010 karena Merapi meletus, dan direncanakan akan dimulai lagi pada 15 November 2010.
Konferensi internasional Wisdom 2010 yang seharusnya digelar pada 8-11 November dengan menghadirkan pemenang Nobel Perdamaian 2006 Muhammad Yunus, juga ditunda hingga Desember 2010.
 
Info : Antara

09 November 2010

Spesications : Our HÄGGLUND BV206

Schematics and Dimensions






 Length 







Turning and Tilt Angles 




Step Distance and 
Inclination / 
Declanation Angles 










Height and Trackin Dimensions

Largest Stock of HÄGGLUND BV206 ATV's available

We are the largest suppliers of HÄGGLUND BV206 All Terrain Vehicles in the EU if not the world.
    Choice of Models 

With over 500 units sold 2007/8 we are well versed at preparing these amazing machines to suit any environment and any role requiring the particular talents of this machine. 

Originally designed for the both Civilian and Military use in the 1980's as an All Terrain Personnel and Equipment Carrier the BV206 has since gone on to established itself as one of the most formidable off roaders in the world.
With clients which include:
• Estate Owners Shoot Vehicles
• Emergency Services Fire Brigade, Ambulance and Mountain Rescue Services
• Disaster Aid and Support i.e. Earth Quakes, Flooding
• Public Service Companies for works undertaken where access is restrictive
• Oil Exploration Companies
• Polar Exploration and Arctic Expeditions

It's Glass Reinforced Plastic Body makes the vehicle light and agile and whilst in military service it offered no protection to the occupants in terms of armour, this agility in it's civilian role makes it the perfect platform for users of these vehicles where normal 4x4 type vehicles reach the limit of their "off road" capability.
With a choice of either Ford V6 Petrol Engine which can be LPG converted or the newly introduced and installed Ford Turbo Diesel Engine, customers have an almost unlimited choice of uses to which they can put these machines.Spesications :
Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP Esprit de corps : DISIPLIN,GIGIH DAN BERANI HIDUP
Ad
Ad